Solusi Beasiswa Minimalis adalah Berhemat

on Wednesday, September 11, 2019





Hal terakhir yang saya sampaikan dalam tulisan kedua saya tentang
Pengalaman hidup adalah keuangan
Dimana kita berbicara bahwa beasiswa yang diberikan oleh pemerintah
Adalah tidak layak, sudah menjadi tugas kita untuk memperbaikinya
Memperbaiki kesejahteraan para penerima beasiswa

Lalu selagi hal itu belum dapat, apa yang harus kita lakukan?
Berhemat adalah cara ter’logis’ bagi para penerima beasiswa dan keluarga
Bukan hal yang mudah memang, tapi mesti dilakukan

Kita keluar negeri mau apa? Saya sampai harus Cuti Diluar Tanggungan Negara (CLTN)
Untuk mendampingi istri kuliah, banyak yang lain harus resign pula
Tentu agar terus bisa bersama keluarga
Saya mendampingi istri karena tahu rasanya meninggalkan anak selama setahun
Pedih rasanya. Lalu saya harus membiarkan ia ditinggal ibunya selama setahun juga?
Tentu tidak, saya harus ambil cuti

Lalu dengan beasiswa untuk satu orang dan dipakai tiga orang
Berhemat adalah cara ter’logis’ bagi kami
Pilihan yang harus dilakukan adalah masak sendiri dan sebisa mungkin tidak jajan diluar
Meski sesekali boleh saja jajan, tapi sangat-sangat jarang dilakukan
Kalau sisa uangnya bisa dipakai untuk jalan-jalan atau beli oleh-oleh

Berhemat maka kita tau dimana toko yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari
Minimarket terkadang tidak menjual semua yang kita butuhkan seperti daging halal
Bumbu-bumbu indonesia, tempe, tahu, ikan dan masih banyak lagi
Maka toko halal dan oriental (ya kebetulan tokonya namanya juga oriental)
Adalah yang paling sering kami (atau lebih sering saya sendiri) kunjungi

Belanda lebih mudah mencari bumbu-bumbu indonesia ketimbang di Inggris
Bahkan barang seperti kerupuk palembang, tolak angin, dan minyak tawon pun
Nangkring di rak toko oriental dengan rapinya
Oh iya, ada juga toko melati yang lebih indonesia karena dari namanya aja
‘Toko Melati’ yang merupakan milik orang indonesia yang menikah dengan orang belanda
Kombinasi toko Melati dan Oriental adalah komposisi pas bagi warga Indonesia di Groningen
Sungguh, kami nggak rindu-rindu amat masakan Indonesia
Karena bisa bikin sendiri di Groningen (yang bikin Wiwik bukan saya, hihi)

Sedangkan toko Halal tetap ada meski saya yakin lebih banyak pilihan di Inggris ketimbang Belanda
Karena populasi Muslim di Inggris jauh lebih banyak ketimbang Belanda
Namun masih tetap ada dan bisa dijangkau dari rumah dengan relatif dekat
Alhamdulillah, terima kasih kepada para Muslim yang merantau di negara-negara eropa
Terkhusus warga Turki sedunia yang membuka toko halal dan resto halal
Meskipun menu kalian itu mbosenin ya, tapi tetap pemadam kelaparan bagi muslim lainnya

Jadi, selagi masih bertumpu pada beasiswa wiwik, pilihan kami adalah berhemat dengan ketat
Jika tak mau untuk bobol tabungan atau aset kami di Indonesia
(Yang jumlahnya tak seberapa itu)
Meskipun akhirnya pada bulan ke enam (telat banget)
Kami akhirnya bisa sedikit bernafas karena saya sudah mulai bekerja
Kerja apa itu? Di episode berikutnya saya akan coba sampaikan

Baiklah teman, segitu dulu tulisannya
Semoga bermanfaat

#BBPH3



Mengapa Linkage dan Groningen

on Tuesday, September 10, 2019

Photo by Wiwik

Semasa sedang menjalani kegiatan pelatihan bahasa dengan judul
Pre Departure Training, saya mendapat kabar bahwa Wiwik lolos beasiswa
Galau, itu yang pertama karena jujur saya nggak menyangka
Persaingan di Kemenkeu sungguh ketat dan atas izin Allah, Wiwik masuk
Sekarang gimana? Saya sudah menjelang berangkat dan sepertinya sulit jika waktu
Kuliah kami bisa jalan seiringan

Akhirnya kami putuskan Wiwik akan ambil program linkage
Dengan porsi setahun di UI dan setahun di Luar Negeri
Pas jadinya, waktu saya balik ke Indonesia, Wiwik mulai kuliah di UI
Sekaligus saya menjajaki peluang Cuti dari kantor

Singkat kata, cuti disetujui oleh kantor
Dan kami pun mempersiapkan keberangkatan ke Belanda
Pilihan jatuh pada Belanda karena ternyata biaya ini itu di Australia banyak
Dan Eropa lebih menarik untuk jalan-jalan nantinya

Photo by Wiwik
 Dari segi deposit ternyata Belanda lebih kecil ketimbang UK
Tapi ternyata allowancenya lebih sedikit di Belanda
Apalagi beasiswa Wiwik mirip-mirip dengan beasiswa saya
Tanpa tunjangan anak dan istri, lain cerita kalau dapat LPDP
Eh tapi LPDP tahun 2018 sudah nggak dapat lagi tunjangan anak dan istri untuk
Beasiswa Master Degree,
Namun nilainya masih lebih besar ketimbang FETA atau SPIRIT (Beasiswa saya waktu di UK)

Groningen dipilih Wiwik karena  konon lebih bersahabat bagi keluarga
Yowis, saya juga nggak nyaman tinggal di kota metropolitan macam Amsterdam
Bismillah, kami pun berburu rumah yang ternyata jadi hal yang paling sulit
Bagi para mahasiswa di Groningen dan Belanda pada umumnya
Apalagi yang datang bersama keluarga, makin sulit
Namun, Alhamdulillah kami dapat juga Apartemen takeover dari mahasiswa
Yang sudah lulus dari UoG

Satu hurdle telah dilewati dengan baik,
Lalu rintangan berikutnya adalah mengelola keuangan
Karena beasiswa yang didapat itu sangat mepet
Sehingga begitu mengancam keberlangsungan tabungan rupiah yang ada

#BBPH2

Berbagi Pengalaman Hidup di Belanda dan UK



Sayang sekali rasanya jika pengalaman yang telah diperoleh
Hilang begitu saja atau paling tidak hanya tinggal kenangan

Sempat saya gemar sekali menulis sehingga saya pun pernah punya cita-cita
Menjadi seorang penulis, ya penulis
Namun itu semua seperti menguap seperti hobi saya menggambar
Yang mulai menguap semenjak saya focus pada tugas-tugas kuliah dulu
Ketika mengambil program master di Newcastle University
Padahal sejatinya saya mengambil MBA karena ingin menyelaraskan antara
Pekerjaan dan Passion saya
Pekerjaan sebagai ‘Auditor’ dan hobi menggambar
Saya ambil tanda petik karena sejak mulai bekerja hingga kuliah saya belum punya
Pengalaman menjadi auditor, baru setelah lulus saya punya kesempatan itu

Lalu pengalaman apa yang hendak saya bagikan?
Pertama adalah pengalaman ketika beberapa waktu lalu kami sekeluarga
Pindah ke Groningen untuk menemani Wiwik yang ambil Master disana
Lalu, semoga saja masih ingat ya, pengalaman saya ketika saya belajar di Newcastle
Karena ternyata saya menyadari bahwa tidak banyak orang yang mempunyai
Pengalaman tinggal di beberapa Negara berbeda seperti saya
Bukan untuk bersikap sombong tapi semata-mata ingin berbagi pengalaman
Terlebih, yang berbagi pengalaman dalam tulisan lebih sedikit lagi
Biarlah orang lain menggunakan media YouTube untuk berbagi pengalaman
Saya via tulisan saja agar lebih banyak yang saya ceritakan

Saya ingin berbagi pengalaman saya menjadi fulltime Ayah bagi anak saya
Bekerja di Belanda, dimana kebanyakan orang berbicara dengan bahasa Belanda
Sekolah anak di Belanda, suasana lingkungan di Belanda, hingga bagaimana agar bias hidup di Belanda dengan allowance yang terbatas

Di chapter berikutnya saya akan bercerita tentang pengalaman saya
Saat menimba ilmu di UK beserta tetek bengeknya hidup disana
Yang ini semoga saja tidak lupa ya, hihihi

Lalu jika memungkinkan saya ingin sekali membandingkan kehidupan di Belanda, UK, dan bahkan mungkin di Indonesia.

Agar program ini segera terlaksana maka alangkah baiknya jika saya langsung posting saja setelah menulis, jadi langsung jalan sejak hari ini.

Bismillah, semoga berkesinambungan.